Senin, 07 Mei 2012

Oedema Cerebri

Membaca sebuah blog yang sangat menarik... dan ternyata kisah yang ditoreh kan pun sama dengan kisah ku..

Kembali mengingat...

 

Mei 2010

Berawal dari rasa sakit dibagian kepala ku yang semakin merajalela. 3 hari berturut-turut rasa sakit itu tidak sedikit pun mereda, malah tambah sakit. Tuhan, aku ingat betul saat itu aku sudah benar-benar tidak bisa menahan himpitan sakit diabagian kepala ku. Sampai akhirnya memasuki hari ke-4 aku memutuskan menemui Dr. Paryono di Rumah Sakit Hidayatullah, beliau memang sudah menjadi dokter andalan ku sejak aku tinggal di Jogja dan beliau juga yang membuatku mengetahui kenyataan pahit.


Sekitar jam 9 aku memaksakan diri untuk berjalan menuju RS. Hidayatullah, sesampainya diloket pendaftaran sapaan hangat menyambutku.
"sudah lama ga keliatan mba, udah sehat kan?" tanya seorang perawat
" Alhamdulillah mba, masih seperti yang dulu hehehe" jawab ku dengan candaan

" dokter paryono pagi ini ada jadwal ga mba?" 

"waahhh, dokter paryono seperti biasa praktek sore mba. gimana?"

"hhhmmmm...dokter umum dulu ja kalo gitu mba"

Setelah menyelesaikan pendaftaran aku segera menuju ruang tunggu dokter umum, sepintas aku baca " Dr. Tantri-Dokter umum". ooohhh dokter baru ternyata, pasti nanti banyak pertanyaan dan seperti biasa aku selalu enggan menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan kondisi ku.


"Mba Dewi " seorang perawat memanggil namaku, dengan sigap aku pun menuju ruangan dokter tantri.


"pasien lama ya? Keluhannya apa mba?" tanya dokter

"Kepala saya sering sakit dok" jawabku singkat
"dibagian mana?"

"Sini" jawabku sambil menunjuk tengah kepala.

"sudah berapa lama?

 and bla...blaa...bllaaaa...

 

Diakhir pernyataan dokter hanya menyampaikan "silahkan nanti mba lakukan CT-Scan"

 

CT-Scan? gila ada apa lagi dengan ku..

" Apa harus CT-Scan dok? kira-kira saya kenapa?"

"iya mba, untuk memastikan penyebab sakit kepala yang mba alami. ditakutkan ada sesuatu. ya mudah-mudahan tidak ada apa-apa ya mba"

"ooohh..gitu.."

 

Siang itu juga aku melakukan CT-Scan. 

"hai mba, aku mau CT-Scan" sapa ku ceria kepada perawat yang memang sudah aku kenal

"aaiii mba dewi, aku kira kih wis sehat mba. lha ngopo kok CT-Scan barang?" tanya perawat itu

"entah, ni dokter tantri nyuruh"

"coba aku liat diagnosanya. pasti mba dewi belum baca tho?"

"belum mba, males dah terlalu sering dapet kaya gituan hahaha"

 

Dengan hati-hati perawat membuka diagnosa yang diberikan dokter. Mimik mukanya langsung berubah. hhhmmmm aku hanya mengernyitkan dahi.


"Kira-kira hasil CT-scannya bisa jadi hari ini ga mba?" tanya ku mencairkan suasana

"Oohh..bisa-bisa"  jawabnya dengan menyeka air mata. Lho kok? bingung aku.

"Mba tunggu dulu ya, nanti saya panggil" lanjutnya lagi


Datar, tidak ada perasaan apapun. Takut, khawatir atau apalah bener-bener tidak ada. Semenjar diagnosa Desember 2008, aku seperti mati rasa. Sakit pun seperti tidak sakit. Terserah Tuhan ja mau menggariskan aku gimana, aku hanya ingin menjalani hidup ini dengan sebaik mungkin.

 

___________________________________________


CT-Scan selesai dilakukan dan hasilnya sudah bisa diambil. Aku pun langsung menuju ruang dokter tantri kembali, pelayanan dirumah sakit ini memang cepat.


Sejenak dokter tantri melihat hasil CT-Scan.

"mmmm begini mba, ini hasil CT-Scan bisa dibawa ke dokter paryono. nanti sore mba bisa menemui beliau"

"kalo boleh saya tau diagnosa awal apa ya dok?"

"begini dari hasil CT-Scan dapat dilihat ada pembengkakan otak. Saya tidak bisa menjelaskan lebih banyak nanti sore mba ketemu dengan dokter paryono saja"

"ooohhh gitu, OK" jawab ku santai.

 

Dokter melihat ku dengan tatapan aneh.

 

Ini lah aku yang selalu menanggapi sesuatu dengan datar. kerena aku tau sebesar apapun keinginanku untuk sembuh, akan terhambat dan lagi-lagi terhambat dengan kondisi perekonomianku yang saat ini sedang menurun.

 ___________________________________________

Jam 5 sore aku kembali kerumah sakit untuk menemui Dr. Paryono, sepulang kuliah aku lansung melangkahkan kaki menuju rumah sakit. Aku tidak bisa berhenti tersenyum ketika membayangkan dokter melihat aku masih tegap berdiri, soalnya sekitar bulan maret 2009 ketika aku menjenguk sahabat ku yang sedang sakit, aku bertemu beliau dan beliau langsung mengucap istigfar sambil berucap "kamu masih hidup?" hahahahahaha pertanyaan konyol.


Aku lihat lagi nomer urut ditangan nomer 5, tapi kok ini sudah nomer 7 aku belum dipanggil juga. Adzan magrib pun berkumandang aku lihat Dr. Paryono keluar dari ruangan.
 hhhmmmm sudah ku duga dokter pasti meletakkanku dinomer terakhir huuuufffttt

_____________________________

"Apa kabar mba?" 

"Alhamdulillah masih seperti yang dulu dok"

"Sudah siap mendengar diagnosa selanjutnya?" tanya dokter sambil tertawa

"Haaallllaaahhh dokter ni, kaya ga tau aku ja. santai ja dok apapun itu."

"yaa..yaa..yaaa... Saya sudah paham karakter anda, itu yang membuat saya percaya anda bisa menjalani semua ini. buktinya hari ini anda masih bisa bertemu saya. amazing"

"hahahhahaaaa vonis dokter meleset jauh kan? 4 bulan, tapi bisa sampe hampir 3 taun. udahlah dok, langsung ja jelasin yang ada dibalik hasil CT-Scan" 

"Begini mba, dari hasil CT-Scan dapat dilihat ada pembengkakan otak yang disebabkan oleh kelebihan cairan akibat dari virus atau trauma. saran saya mba hari ini juga opname untuk melakukan infus selama 1 minggu."

"hahaha dokter ini ada-ada ja. saya tetep pada pendirian lama. minta resep ja buat ngurangin sakit"

"mba untuk kali ini mba harus segera ditanganin, soalnya ini bagian otak mba dan bisa menyebabkan penurunan fungsi otak"

"ga apa-apa dok, saya sudah terbiasa dengan hal seperti ini. dokter mau bilang umur saya tinggal 4 bulan lagi ja tidak akan mengubah keinginan saya. so, saya minta resep ja"

"hhhhmmmm... baiklah kalo begitu, dengan catatan mba besok kembali kesini lagi untuk melakukan pemeriksaan fungsional otak. saya tunggu jam2 besok OK"

"ssiiipppp..nah gitu kan enak dok..heheheh"

 

Ada satu hal yang paling mendasar melebihi masalah biaya pengobatan. Dimana yang aku pertimbangkan selama ini adalah masih banyak diluar sana anak-anak yang tidak bisa merasakan bangku pendidikan untuk itu semenjak diagnosa pertama dan aku harus melakukan operasi dengan biaya miniman 245juta, aku berfikir alangkah baiknya uang tersebut aku gunakan untuk membangun sebuah yayasan pendidikan untuk masyarakan kurang mampu. itu akan menjadi lebih bermanfaat dibandingkan untuk membeli 2 buah plat dan berbagai pemeriksaan penunjang yang notabene hanya untuk satu orang yaitu aku.

 

09 Desember 2008

"Tuhan, sakit ini memang sungguh menyiksaku aku ikhlas jika memang aku harus menghadap-Mu. Tapi aku mohon kepada-Mu sesempit apapun waktuku jadikan aku bermanfaat dan jangan sulitkan jalan ku untuk menuju jalan-Mu agar tidak ada tangis dipipi indah orang-orang yang aku sayang"


 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar